Jumat, 05 Juni 2015

Oeang Adalah Koentji (?)

"anak sekolah"
(Sumber Gambar: trisetyobudi.blogspot.com)

Jatinangor yang katanya merupakan kawasan pendidikan, adalah kecamatan yang tidak terlalu besar dan terdapat lima universitas populer di Indonesia. Aku pikir kurang tepat kalau label kawasan pendidikan ini hanya atas dasar alasan itu saja atau karena sebagian besar populasi penduduknya didominasi oleh mahasiswa, tapi justru mahasiswa atau yang terdidik itu merupakan para pendatang saja. Miris melihat pribumi jatinangor sendiri masih banyak yang belum menyelesaikan pendidikannya, bahkan tamat sekolah dasar pun tidak.

Fakta menunjukan masih terdapat anak usia sekolah di jatinangor yang tidak bersekolah. Kita menyebut anak-anak seperti ini ‘anak putus sekolah’. Fenomena putus sekolah diakibatkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah ekonomi. Untuk mengantispasi hal ini pemerintah telah banyak mencanangkan program yang dapat membantu anak untuk terus bersekolah seperti BOS, BSM dan yang terbaru adalah kartu sakti: Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Bantuan yang telah disebutkan di atas merupakan bentuk lain dari bantuan materi atau uang dengan sasaran keluarga atau anak usia sekolah yang terkendala biaya agar dapet bersekolah dengan gratis. Tapi fakta lain di lapangan ternyata tidak selamanya anak putus sekolah adalah anak yang tidak mampu membiayai sekolahnya. Ada beberapa anak yang ditemukan justru tidak mau sekolah karena faktor motivasi dan psikologis. Seperti si A yang tidak mau bersekolah lagi karena malu sudah telat satu tahun tidak bersekolah, seperti si B yang tidak mau bersekolah lagi karena takut dijahili oleh teman-temannya.

Apakah pemerintah selalu menganggap bantuan yang berorientasikan uang dan barang akan selalu menjadi kunci dalam menanggulangi anak putus sekolah? Apakah pernah pemerintah meletakan faktor motivasi dan psikologi tersebut pada proposi yang penting, sepenting bantuan uang dan barang? Apakah karena faktor tersebut dikategorikan sebagai kehendak pribadi individu sehingga tidak menjadi perhatian pemerintah?

Kamis, 04 Juni 2015

Dilema Kawasan Karst

kiri ke kanan: Budi Brahmantyo, Dr. Ko, Pindi Setiawan
(Doc: Ikhsan Rizky - Palawa Unpad)

Sore hari tadi sarasehan geologi menjadi lebih menarik karena kedatangan Dr. Ko yang merupakan seorang ahli gua dan juga seorang dermatologist. Beliau dikenal karena konsistensinya sebagai pemerhati kawasan karst –ekso dan endo–, tidak hanya diakui secara nasional namun juga dalam lingkup internasional. Walaupun sudah tidak muda lagi, beliau tetap semangat menularkan ilmunya dengan mempresentasikan betapa pentingnya kawasan karst bagi kehidupan.

Bila kita berbicara semen tidak akan terlepas dari batuan gamping dan karst, karena kandungan yang terdapat pada batuan gamping merupakan satu-satunya sumber bahan baku dalam pembuatan semen. Tidak heran jika banyak pabrik semen menjadi pragmatis –menghalalkan segala cara– untuk terus mengeruk kawasan karst. Tak jarang upaya pabrik-pabrik semen tersebut menyulut konflik dengan warga setempat. Kawasan karst Rembang adalah salah satu contohnya.

Bagi konservasionis seperti Dr. Ko, ekosistem yang terdapat di kawasan karst menjadi pertimbangan prinsipil untuk dilindungi. Perlu diketahui ekosistem adalah suatu keadaan khusus dimana komunitas dari pelbagai macam organisme hidup dan saling berinteraksi (hubungan timbal balik). Dr. Ko menyebutkan satu contoh organisme yang memiliki peran penting di kawasan karst, kelelawar.

Kelelawar adalah mamalia yang mampu terbang dan hidup menggantung di atap-atap gua. Salah satu kebiasaan makanan kelelawar adalah buah-buahan. Karena kebiasaannya inilah, kelelawar menjadi agen pembawa biji atau benih yang nanti akan tumbuh menjadi tumbuhan baru. Secara tak langsung, kelelawar turut melestarikan jenis-jenis tumbuhan yang berada di habitatnya, dalam hal ini adalah kawasan karst.

Selain itu, walaupun terlihat gersang dan tandus, kawasan karst memiliki daya serap air yang baik. Air hujan yang jatuh akan terserap dan larut ke dalam permukaan sehingga membentuk rekahan, yang nantinya akan membentuk aliran air. Semakin lama aliran air ini akan membesar sehingga membentuk gua. Proses ini tidaklah sebentar, membutuhkan waktu jutaan tahun untuk membentuk sebuah gua. Selain menyimpan keindahan di dalam gelapnya, gua adalah sumber mata air bagi masyarakat. Mengenai hal ini, Dr. Ko menyatakan 25% sumber air dunia adalah air karst.

Berbeda dengan Dr. Ko, Pindi Setiawan yang merupakan alumnus FSRD ITB melihat keunikan karst dari keilmuan lain, yaitu seni (gambar cadas). Gambar cadas merupakan peninggalan manusia ribuan tahun lalu biasanya terdapat pada dinding gua dan tebing. Gambar ini digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi atau mengekspresikan perihal tertentu. Ini menjadi penting karena dapat merepresentasikan peradaban leluhur atau nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu, khususnya di Indonesia.

Apa yang diapaparkan di atas hanyalah sebagain kecil dari sekian banyak alasan untuk melindungi kawasan karst. Dr. Ko mengatakan bahwa masalah di kawasan karst tidak hanya sebatas urusan geologi semata. Banyak aspek dan disiplin ilmu (ex: hidrologi, antropologi, biologi) yang perlu dikaji secara terpadu dan holistik dalam mengeksplorasi potensi kawasan karst, yang nantinya akan dijadikan acuan apakah kawasan tersebut layak untuk ditambang atau tidak. Hal ini terkait dengan AMDAL yang sering dimanipulasi oleh para pemodal untuk mengeksploitasi suatu kawasan. Begitu juga dengan pengetahuan mengenai karst yang masih terbatas menjadi celah yang dapat dimanfaatkan oleh para pemodal ini untuk mengelabui, entah masyarakat itu sendiri atau bahkan pemerintah.

***

Budi Brahmantyo seorang geologis, memaparkan pendapatnya tentang dilema kawasan karst. Beliau mengakui bahwa memang belum ada solusi dalam permasalahan kawasan karst ini. Kandungan kalsium karbonat yang merupakan bahan baku pembuatan semen hanya dapat diperoleh dari batuan gamping, belum ada alternatif lain. Sementara, keberadaan kawasan karst juga penting sebagai pemberi kehidupan. Karena begitu dilematisnya permasalahan ini, beliau hanya mampu mengembalikannya kepada hati nurani kita: apakah perlakuan kita terhadap alam sudah tepat?

Ada satu kuotasi dari Dr. Ko yang menarik, beliau mengatakan “I live in the forest and the forest live in me”. Kalau boleh saya tafsirkan, kalimat tersebut menunjukan bahwa dengan segala kerendahan hati, manusia adalah bagian dari alam semesta. Kita adalah alam semesta itu sendiri. Bila saja kita menyadari akan hal itu, bahwa manusia tidak akan bisa terpisahkan oleh alam mana mungkin kita merusak ‘diri kita sendiri’? 

Selasa, 12 Mei 2015

Last Episode of Earth [Part II]

Previous Story: Last Episode of Earth [Part I]
‘The Idea’
(etsy.com)

Meanwhile, out in the farthest reaches of the galaxy. There’s a huge planet lived by unknown-things, let’s call them as ‘The Idea’. We can never imagine their appearance, they can be anything they want. They are much older than the age of the universe. They are billion times more modern and smarter than all living things. They do what they want. They know what we do, every single thing. Even just a blink of your eyes. They created something from nothingness with pure will. they used the very best technology to control every single thing in the universe like the orbits and rotation period of all planets, gravity, the black holes, the comets, the stars and even time. They are the one who created all lives by putting a single cell on planets, earth was no exception.
Nevertheless, they are not kind and loving things! They demanded sacrifice, because the puny inhabitants of earth displeased them! What’s happening on earth made ‘The Idea’ really upset. Humans preferred to kill their amazing creatures, all animals and plants rather than living in harmony alongside nature. All human beings on earth repeats the same mistake, just like they did on Mars and Pluto. That’s why ‘The Idea’ burned Mars into ashes, and froze the Pluto into ice! Now, it’s earth’s turn. ‘The Idea’ will terminate the earth very soon.
How do they terminate earth? The first thing was to stop the rotation of earth. That day all the people realized that the earth had stopped spinning. Every spot on earth became permanent day time on half and the night time on the others, all year long. The temperature to be much hotter than ever on day time side, and much colder on the other side. It caused an unstable atmosphere that made huge storm always happen very often, destroying everything. All the people are discouraged, they couldn’t do anything! They stopped working, all they could do is only stay at home. 80% of the world’s population were hungry and there was a spread of the plague. One by one, they were going to die.
“It's the end of the world! Run for your life!” Said every president.
“What's happening today has been written in the bible. This is just the beginning for our eternal life. God promises that for those who believe!” Said every religious leader.
The second thing, ‘The Idea’ dropped the giant meteor (the diameter is about 10 kilometers). It goes on a terrible rampage, striking fear into the hearts of the populace. The meteor creates panic in the streets, earth lies in ruins! All the people were trying to save themselves. They all ran to an airport, thinking that a jet plane could save their lives, some of them just hiding in the bunker and begged to God for his mercy. Unfortunately, ‘The Idea’ ignores their pleas for mercy and the doomed just writhe in agony!
A Meteor Hitting The Suface
(darkbrownharis.co)

“Professor! It’s time!” said Zeta.
“What the hell are you doing, prof?! The end of the world is here! We must hurry to our space ship! You can’t just lie on bed like that!”
“O, Zeta, my boy. I’m very old. I have been getting sick since the earth stopped spinning. I will not make it. My death is near. I was thinking that you have to go away by yourself. You can do it! I have prepared everything you need. i have also already put coordinates of our new planet, and the fuel tank is full, more than Enough to run the ship at the highest speed of light. You can do it!”
“But, prof...” Zeta started to cry. “I have no one besides me. My Dad is already dead. I don’t want to lose you.”
“I’m so sorry, boy. if i come with you, i will be a weight around your neck. Look at me, i am not able to stand on my feet anymore. There is no time, you must go now!”
The meteor already hit the surface. It caused an enormous amount of dust, ash and other materials to fly into the atmosphere, blocking the radiation from the sun. It leads to mass extinction, wiping out many of the world’s existing species: humans.
At the same moment, Zeta just reached the atmosphere, he is ready for his new journey to the next new planet. He was the only human who witnessed the destruction of the earth. From the distance. The earth slowly became a red planet, it was on fire and soon it would explode.
       Hasta la vista (good bye), my baby blue earth.” said Zeta, as he flies million light years away from earth. He was the only human remaining.


*****
         To Be Continued................

Jumat, 01 Mei 2015

Review: 4'33'' (of Silence) by John Cage


vimeo.com

scientist have identified the oldest musical instrument in the world. this artifact looks like a flute made of bird bone and mammoth ivory. this flute is between 42.000 and 47.000 years old which means music has always been a part of human life for many years. music is also one of things that can be universally accepted (a universal language). for many people, music is enjoyable entertainment that can make your body twist and dance or even for religious purposes. some artists use music to spread their message. we can find messages of peace in reggae music, for example.

most of us agree that music is always relate to these elements like tone, rhythm, melody, lyric and musical instruments that must be present in every song and musical work. on the other hand, you will find something extremely different when you hear or see the video of 4’33’’ (four thirty three) by John Cage, because all you can hear is four minutes and 33 seconds of silence.

John Cage was an American composer and pianist in the Avant-Garde period (late 19th century). in 1952, Cage composed his best known and most controversial creation, 4’33’’. that’s also called “a silent peace”. the debut performance for this piece of art was given to David Tudor in Living Theater, New York. during his performance he only set silently at the piano, opened the keyboard lid, then he closed it and reopened it three times as there were only three ‘movements’ in this absurd performance i have ever watched.  i wonder what i would do if i was in attendance. i might have been fooled and left the room with no doubt just like everyone did that time. i think it’s a normal reaction because we will never be in an empty gallery, we will never be in a concert without sound. everyone has a concept of how things should be, how a gallery should be (presenting sculptures or paintings). sitting silently for any length of time is not something that people expect.

now we need to see the piece of art in a different light. we need to find the reason behind why John Cage made this piece. before he created this piece, he was in India to learn about Zen Buddhism and in Buddhism, silence is the only one appropriate reaction to a variety of different question, such as ‘does god exist?’, ‘where do we go when we die?’. human language is limited and can’t define the absolute truth. that is why silence is the only answer or response according to Buddha.

rugusavay.com

on the other hand, Cage found that there is no such thing as silence. something is always happening that makes a sound which is related to body language, expression of our mind, feeling, etc. Cage also found that music can be in harmony with nature as ‘art is the imitation of nature in her manner of operation’. in 1951, he found himself by sitting in a room fully soundproofed to experience absolute silence. he was right, there is no such thing as silence. he only heard two sounds, one high and one low. the high one was his nervous system and the other one was his blood circulating. after that he said, “until i die there will be sounds and they will continue following my death. one need not fear about the future of music”.

it’s impossible for us to experience absolute silence, we will always have something to hear that can’t be avoided. it brings to mind another point of view, the chirp of cricket can be just as musical as the Nocturnes by Fredic Choppin if you choose to hear it that way. Cage wants to make us more sensitive to the various sounds that surround us in this world at all times in our lives. furthermore, 4’33’’ is not about listening to nothing, it’s much more than that it’s about listening to everything.

references:
news.nationalgeographic.com/news
buku: apa itu musik? by karina andjani


Intropeksi 2 Menit

www.simplypsychology.org

bagi anak psikologi pasti mengenal nama erik erikson, seorang psikolog asal jerman yang juga berdarah denmark. ia mengagas sebuah teori yang dikenal dengan teori psikososialnya atau biasa disebut dengan delapan tahap perkembangan manusia (lihat tabel di atas). erikson membagi tiap tahap berdasarkan usia manusia. namun dalam tulisan ini, aku gak akan menjelaskannya lebih jauh. aku ingin mengajak kalian membayangkan kedelapan tahapan itu diperkecil skalanya ke dalam usia akademis (kita) sebagai mahasiswa. 

usia akademis ku udah mencapai enam dari tujuh tahun, hanya kurang satu tahun lagi dari seluruh sisa 'hidup' ku sebagai mahasiswa. mungkin kalau aku masukan dalam delapan tahap psikososialnya erikson, aku udah berada di tahapan terkahir: ego intergrity vs despair atau dalam tahap usia lanjut. dimana menurut erikson, dalam tahap ini orang cenderung melakukan intropeksi diri atas prilaku yang telah diperbuat selama hidupnya. kalau semasa hidup mencapai keberhasilan maka ia akan berpuas diri (intergirity). tapi sebaliknya, bila tidak, maka ia akan merasa beruputus asa (despair). lalu, dimanakah aku di antara dua itu?

***

sebelum menjawab pertanyaan di atas, aku juga mau mengajak kalian melihat apa yang udah aku perbuat dimasa 'hidup' ku sebagai mahasiswa: 

aku sama seperti kalian, aku merelakan diriku bergelut dengan bangku kuliah dengan setumpuk tugasnya yang mengiringi setiap langkah, setiap jengkal pikiranku. terkadang aku juga bolos kalau lagi males kuliah: tidur di kosan sampai siang, nonton film drama yang aku beli, atau playing my guitar all day long which always out of tune that can never please anyone, but myself. di lain waktu, bersama temen kampus aku berdiskusi tentang banyak hal: mulai dari keilmuan sampai kemanusiaan, sayang, cuman berakhir di atas meja gapleh.

selain belajar dari bangku kelas, kata orang bijak: kita juga harus melatih soft skill untuk memenuhi pengembangan diri. bagi para mahasiswa, soft skill selalu erat kaitannya dengan organisasi. maka dari itu, aku pun menjadi salah satu anggota organisasi tingkat universitas di kampus ku, sampai sekarang aku masih aktif. apalagi alasan dan motivasinya selain untuk mendapatkan pengalaman yang bisa aku tulis di curiculum vitae dan juga untuk mendapatkan jaminan modal sosial (networking) yang nantinya bisa aku manfaatkan sesuai kebutuhan?

saat itu aku gak memahami betul apa itu aktivisme, yang aku tau setiap orang atau mahasiswa yang menjadi anggota organisasi kampus disebut dengan aktivis. kalau benar begitu, aku udah melebeli diriku seorang aktivis. tapi, sebenernya aktifitas di orgnaisasi gak jauh berbeda dengan dengan bangku kelas. aku juga harus mengerjakan tanggung jawab dalam bentuk tugas dari program kerja tiap tahunnya, dan itu gak sedikit, yang terpaut pada target tertentu dan juga deadline, mengadakan latihan, serta kegiatan yang makan banyak waktu. gak heran kalau kadang aku perlu mengorbankan sedikit waktu kuliah demi loyalitas terhadap organisasi. buruknya, jadwal kuliah dan organisasi yang (aku anggap) padat jadi pembenaran buatku untuk gak melakukan hal lainnya yang lebih bermanfaat (untuk orang lain).

kata orang bijak lainnya: selain perut, otak juga perlu diberi makanan yang bergizi. mulai saat itu aku mulai suka baca buku, entah itu buku fiksi atau non-fiksi. aku baca apapun yang menarik hatiku. apalagi alesannya selain buat menambah wawasan dan memperkaya diri sendiri dengan pengetahuan yang lain? lebih dari itu, khususnya buku-buku fiksi, bisa membuat kita flying through imagination, membuat kita lupa akan waktu, membuat kita lupa akan realitas di sekitar kita. di satu sisi aku pikir itu merupakan hal yang baik, tapi aku juga menemukan sisinya yang buruk. kenapa? karena ternyata memiliki wawasan itu tidak akan menyelamatkan apa-apa dan siapa-siapa.

***


deviantart.com

bagaimana menurut kalian? apa yang kalian pikirkan dari tulisan ku di atas? mungkin sebagian dari kalian ada yang menganggap, apa yang aku lakukan adalah hal wajar yang biasa dilakukan oleh mahasiswa lainnya. tapi coba kalian lihat dari perspektif yang berbeda, karena bagiku itu justru adalah sebuah kegagalan ku sebagai seorang mahasiswa. di tahap ke delapan dari teori erikson ini, di usia akademis yang udah renta. hasil intropeksi ku justru leading me to hopelessness (despair).  ya, aku telah gagal or generally speaking, i've done things that i should not be proud of...

tanpa disadarai apapun yang telah aku lakukan selama enam tahun ini, semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan ku sendiri. seperti kuliah: yang (akan) aku selesaikan sebagai syarat untuk mendapat gelar sarjana, mendapat kerja yang layak, menjadi buruh industri, mendapat penghasilan, menghidupi hidup ku sendiri, bukan begitu? begitu pula dengan loyalitasku terhadap organisasi, apa lagi yang aku peroleh selain untuk kepentingan ku sendiri, seperti menambah pengalaman dan netwroking? selain itu, apalagi yang aku peroleh dari membaca buku, selain kesenangan dan kepuasan pribadi untuk mengetahui banyak hal yang tidak akan pernah menyelamatkan apa-apa dan siapa-siapa?

aku telah menjadi orang yang sangat egois. aku hanya memikirkan diriku sendiri. padahal, selama ini aku menumpang hidup di kota ini, mendapat apapun yang aku butuhkan. tapi aku udah menutup mata, lupa bahwa aku adalah seorang mahasiswa, seorang manusia, dan juga bagian dari masyarakat. tapi tidak ada sedikitpun dari tindakanku yang kongkret dapat bermanfaat bagi kota ini, bagi masyarakat sekitarku. bukankah seorang mahasiswa harusnya hadir di tengah masyarakat? dengan intelektualitasnya bukankah seharusnya mahasiswa dapat melayani dan membantu masyarakat mencari solusi atas permasalahan yang ada? menjadi agen perubahan dan sebagai pengontrol sosial di lingkungan atau masyarakat sekitarnya? dan dengan 'kebebasan' yang dimilikinya bukankah mahasiswa bisa melakukan banyak hal?

***

aku gak tau apa yang aku tulis di atas itu benar bagi kalian atau gak, setiap orang selalu punya standar kebenarannya masing-masing, setiap orang selalu punya konsep gimana seharusnya manusia menjadi dan gimana seharusnya mahasiswa menjadi.

Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. - Soe Hok Gie

Sabtu, 18 April 2015

Last Episode of The Earth [Part I]

Cities in the future
(http://imgbuddy.com/future-earth-cities.asp)

Here comes the day when earth turns into the greatest modern world, when science is misused by humans. A world they say that was plastic and fake, they have taken all the living things. A world without nature. No more living trees, they manufactured all of them. Each one is made in factory which can’t produce oxygen. They used machines to create the fake fresh air and water to survive, and they stepped on synthetic grass and sand, they also planted in their garden the fake roses and lilies without bees that blossom for forever. As for pets, they no longer kept living dogs or cats, but robots that use batteries and have no need to be fed. They liked live that way.
They build the high-rise buildings as high as the sky. Many factories stand all over the world, no wonder then, that the whole sea is contaminated by chemicals and trash. as for transportation, they didn’t need road anymore to run their cars, because today all cars are flying among buildings, and were used for going to church or the office. Sometimes they used a jet pack to take a little walk.
The last book has been burned many years ago, they don’t need books anymore. Only one single click on their small tablet to access all the knowledge they need. They said it’s like in paradise, they loved living that way. They thank God for all of this, the highest accomplishment of mankind. They worship God and also worship technology. Anyway, it was only yesterday when people found more evidence that life has been existing on Mars and Pluto.
“Hi, Dad! Have you read the news today?” said Zeta to his father.
“Hmm.. not yet. What is new?”
“It’s a summary of NAZA Expedition to Mars and Pluto. They found many artifacts there. What surprised me the most is the artifacts shown that there was modern life has ever existing on both planets! Their technology was similar to our latest technology!”
“And then? I didn’t get it, son.”
“I was just thinking that Prof. Gudmundur was right. He said all of these accomplishment, i mean our technology now, doesn’t mean good progress of mankind, but the opposite! It’s our regression! We all have failed to live a life! Prof. Gudmundur also said our planet will be in the same boat with Mars and Pluto. We need to escape, Dad!”
“Are you still talking to that man?! I told you many times, don’t you dare to have any relation with that old-insane-man!”
Space ship 
(http://phantagrafie.deviantart.com/art/)

      Professor Gudmundur is an 86 year old man. He was rejected from society because of his thoughts. He was the only one who still believed that the best way to live a life was to live alongside nature. No one listen to him, but Zeta the only young man who believe in prof. Gudmundur’s stories. He predicts that this world will be destroyed by unknown forces. That was why they are trying to build a space ship to escape when the day comes (they have build this ship for last three years).
“Prof, i have failed to persuade my Dad to join us.”
“It’s ok for now, you can ask him later. Lets focus on our ship that’s almost finished, and you know what? I found another planet that supports life, it’s near enough to our planet, just 4.5 light years away.” said professor.
“I know it, It’s Centaurus constellation! It means Proxima Centauri will be our new sun! But, Prof... I don’t think we can make it. I can’t imagine how to really start a new life”
“Don’t be discouraged, Zeta. Don’t you remember how did life start on earth only from one ‘super-tiny’ single cell?”
“I do...”
“Then, just relax. I’ve got everything we need, boy.”
“Prof, there’s something i want to ask.”
“What is it, boy?”
“Are you sure that the earth will be ruined one day? What will ‘the unknown-force’ do with the earth?
“Hmm... Take the worst thing you can imagine, and imagine something a million times worse than that.”
“They will do that?!”
“No, they will do something even worse! Now forget about that, we must focus on our ship.”

*****
To be continued..................

Kamis, 19 Maret 2015

Jumat, 20 Februari 2015

[Review]: We Are All Africans (2)

...

sekarang di turki, fosil yang ditemukan berusia kurang lebih 50.000 sampai 40.000 tahun yang lalu melalu sungai denube. tantangan yang berbeda untuk kelompok ini, ternyata di eropa, lebih dulu sudah ada spesies yang mirip manusia juga, neandhertal (sepupu homo sapiens). beberapa tahun homo sapiens dan neandhertal hidup berdampingan bahkan diduga bertukar kebudayaan. tapi gak ada bukti kalau mereka pernah menghasilkan keturunan bersama. sampai akhirnanya neandhertal punah. kelompok homo sapiens ini yang berperan penting atas populasi homo sapiens di eropa mulau dari turki, spanyol, jerman sampai irlandia (tiba di irlandia sekitar 25.000 tahun yang lalu). dan kenapa mereka jadi berkulit putih? ini karena proses adaptasi dengan iklim, sinar matahari di daratan eropa lebih lemah dari pada di afrika atau asia.

lalu kita ke china, di film ini gak ditunjukin bukti mendukung untuk teori out of africa yang ditemukan di china. dan ada perbedaan pendapat juga dengan scientist di china: kalau mereka gak percaya dengan teori out of africa. mereka meyakini kalau ras mereka berasal dari leluhur yang berbeda dengan manusia lainnya. tapi pernyataan tersebut terpatahkan dengan bukti genetis yang diteliti kalau ras china pun punya kesamaan kode DNA dengan leluhur yang berasal dari afrika. tapi ada pertanyaan menarik: kenapa mereka punya wajah yang beda?

jawabannya: dalam satu populasi besar, sangat mungkin akan ada lahirnya sebuah gen yang unik (katakanlah 'narrower eyes gene'), dan bila gen tersebut dianggap menarik oleh populasi. spesies yang memiliki gen tersebut akan memiliki keturunan dan mewariskan ke generasi berikutnya. dan pada akhirnya lestari dan menyebar luas. oh ya, di china ini juga mulai dikenal sistem bercocok tanam yaitu tanaman padi.

sampailah kita pada kelompok kecil yang sampai ke malaysia, dari malaysia kelompok ini memanfaatkan indonesia sebagai jalur migrasi yang berakhir di australia. kerangka homo sapiens yang ditemukan berusia tidak lebih dari 10.000 tahun. melalui flores, kelompok kecil ini menyebrang sampai australia. perjalanan pun selesai. setiap kelompok yang tersebar di seluruh penjuru dunia beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan geografis yang berbeda-beda sehingga melahirkan kebudayaan yang berbeda pula.

***

teori out of africa ini ada satu dari sekian teori yang muncul mengenai asal-usul manusia. teori ini dianggap yang paling mungkin terjadi dan bisa diterima. walaupun begitu masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dari teori ini. lalu, gimana bisa teori ini bisa membawa kita ke kesimpulan yang benar? bisa jadi malah sebaliknya?

mungkin jawabannya, bisa didasarkan pada kaidah seleksi alam darwin: bahwa dalam populasi organisme akan ada keragaman secara genetis dan perkembangan berbagai individu. perbedaan-perbedaan itu berarti bahwa sebagian individu akan lebih mampu menarik kesimpulan yang benar mengenai dunia sekitar mereka dan bertindak sesuai kesimpulan tersebut. individu-indivitu itu akan lebih mungkin bertahan hidup, lestari dan berkembang biak, sehinga pola prilaku dan pola pikir (kemampuan bernalar) mereka akan lebih unggul dan semakin unggul. 

yang pasti sains akan selalu dinamis, dan akan selalu berkembang. gagasan-gagasan mengenai teori sains yang sudah disebutkan menganggap kita adalah sosok rasional yang bebas mengamati alam semesta sebagaimana kita kehendaki dan mengambil kesimpulan logis berdasarkan apa yang kita lihat (stephen hawking, dalam buku brief history of time).

***

the differences between us all are really just superficial. We are all members of a young species that goes back less than 200.000 years, and we are surprisingly closely related. this is the story that has emerged from the study of stones, bones and our genes. that wherever we've ended all up all over the world, we are africans under the skin. and uncovering that story, retracing the steps of our ancestors, has given us profound sense of our common humanity, our shared past and our shared futures (alice roberts).

[Review]: We Are All Africans (1)

where do you come from?
how did the first human become you?

dua pertanyaan fundamental yang mengawali film dokumenter perjalanan alice roberts, seorang anatomis dan juga antropologis dalam mencari jawaban atas dua pertanyaan tersebut. film dengan judul 'the incredible human journey' yang diproduksi oleh BBC tahun 2009. film ini me-representasikan sebuah teori yang disebut: teori out of africa. dan tulisan ini adalah review dari film tersebut.

***

awalnya teori out of africa adalah sebuah konsep yang dikemukakan oleh charles darwin sehubungan dengan teori evolusinya yang menyatakan kalau manusia merupakan evolusi dari kera yang ada di afrika yang ditulisnya dalam buku 'the descent of men'. mengingat di afrika terdapat populasi simpanse dan gorila. btw, kode DNA manusia dengan simpanse itu punya kemiripan sampe 94% loh. sampai buku ini terbit, teori evolusi dan out of africa yang dicetus darwin masih sebatas spekulasi, sampai akhirnya semakin kuat dengan ditemukan beberapa fosil manusia purba di daratan afrika beberapa puluh tahun kemudian (bimbie.com).

prinsip dari teori out of africa ini adalah merunut kejadian atau kronologis persebaran manusia modern (homo sapiens) yang dimulai di afrika sampai menyebar ke seluruh penjuru dunia. kronologis yang dibuat berdasar data-data usia kerangka yang ditemukan dengan metode sisa karbon (carbon dating) dan kode DNA. dari kronologis tersebut ternyata mengindikasikan sebua alur yang berurutan bagaimana homo sapiens tersebar.

dalam teori ini juga mengungkapkan kalau manusia melakukan imigrasi bukan karena paksaan atau terusir dari afrika, melainkan karena proses adaptasi, mengambil kesempatan yang dapat menguntungkan bagi dirinya dan kelompoknya. dalam prosesnya perubahan secara anatomis maupun psikologis pun berkembang. seperti bentuk tubuh yang bertambah besar dan juga kehidupan sebagai mahluk sosial pun terbentuk. perubahan-peruahan tersebut tidak sebentar, membutuhkan waktu ratusan ribu tahun untuk menjadi seperti sekarang.

di film dokumenter ini, diawali dengan penemuan kerangka manusia modern (homo sapiens) yang ditemukan di sungai omo, desa kibish, ethiopia. kerangka manusia modern pertama ini berusia 200.000 tahun.

dalam kelompk-kelompok kecil, homo sapiens diperkirakan mulai menyebar 120.000 tahun yang lalu ke arah selatan afrika. dan 100.000 tahun yang lalu mulai keluar afrika menuju israel melewati padang sahara, yang katanya pada saat itu gurun sahara masih merupakan 'sunny green field'. tapi sayang, di israel homo sapiens gagal melajutkan hidup. tidak ada bukti yang menunjukan perjalan berlanjut setelah dari israel. tapi ada satu hal yang menarik di israel ini. 10 fosil yang ditemukan menunjukan sudah adanya ritual penguburan. bahkan diduga kelompok ini sudah memiliki kepercayaan akan kehidupan setelah mati.

70.000 tahun yang lalu kelompok lainnya keluar dari afrika menyebrang laut merah menuju yaman dan negara timur tengah lainnya. kelompok inilah yang berperan penting tersebarnya homo sapiens ke seluruh penjuru dunia. setelah itu kelompok ini juga terbagi dalam kelompok kecil, ada yang menyebar ke siberia, turki, china dan india sampai malaysia.

di siberia ditemukan fosil yang menunjukan kalau 40.000 tahun yang lalu dataran tersebut sudah ditempati oleh kelompok homo sapiens. dalam film ini, sebuah suku, suku evenki namanya, diduga memiliki kebiasaan yang gak jauh beda dengan kelompok homo sapiens 40.000 tahun yang lalu. seperti sudah melakukan domestifikasi hewan liar dan hidup secara nomaden. kelompok ini juga yang sangat mungkin mempengaruhi populasi homo sapiens yang berada di kanada, amerika sampai ke brazil dan chili (tiba di amerika sekitar 13.500 tahun yang lalu).

...

Sabtu, 31 Januari 2015

Manusia, Anjing, Monyet dan Babi

gak banyak yang mau sadar tentang siapa diri kita sebenernya, ya, kalau ditanya 'siapa atau apa kamu?' dengan bangga, sederhana dijawab: aku manusia. kemarin temenku ada yang marah karena merasa dihina: 'dasar binatang!'. mungkin kalau sari sisi humanis, aku pun marah dibilang gitu. tapi kalau mau diliat dari arah yang beda. mungkin emang bener, kalau kita itu sebenernya binatang, ya sama kaya anjing, monyet dan babi.

aku tunjukin urutan taksonomi manusia dari kingdom sampe spesies. mungkin banyak dari kamu yang gak peduli dan gak mau tau tentang ini.

factophile.com

mulai dari kingdom: animalia. artinya punya ciri eukaryotik. punya banyak sel dan gak punya klorofil, dan bisa bergerak. sama kaya anjing, monyet dan babi, gak sama kaya pohon cemara. filum: chordata, sebenernya dibagi lagi, manusia masuk ke sub-filum: vertebrata, artinya kita yang punya tulang belakang, sama kaya anjing, monyet dan babi, gak sama kaya belalang. terus masuk ke kelas: mamalia. aih, kita masih sama-sama menyusui dan melahirkan mirip kaya anjing, monyet dan babi. jelas beda sama burung kutilang.

selanjutnya kita masuk ke ordo: primata.yang masuk kelompok ini yang punya lima jari dan bentuk gigi yang sama. mirip sama monyet, simpanse dan gorila, jelas beda sama onta. famili: hominoidea atau juga disebut hominid. suku kita itu suku primata, tapi keluarga kita, iya, keluarga kita itu hominid atau kera besar yang punya prilaku sosial kompleks, mirip sama manusia dan jelas beda sama rumput gajah. 

nah, masuk ke genus: homo. ini bukan homo yang di film porno (homoseksual). homo disini berarti manusia, dan yang bedain sama simpanse (yang sama-sama homo) adalah otaknya. otak manusia lebih gede dari simpanse, kita lebih pinter. sampe ke yang terakhir, spesies: sapiens. tau artinya apa? bisa cerdas, bisa bijaksana. ini nih yang gak bisa samain manusia sama mahluk hidup lainnya. kalau kata orang, kita binatang yang bisa mikir.

biologimediacentre.com

tingkat taksonomi dari kingdom sampe ke famili, manusia masih mirip binatang anjing, monyet dan babi. tapi paling mirip sama monyet, sama-sama homo (genus). aku tunjukin lagi kemiripan kita sama binatang. liat gambar diatas. kita jangan nutup diri deh kalau di fase pertama embrio manusia itu, masih sulit dibedain sama embrio ikan, burung, dan babi. dari fase ke dua mulai bisa bedain, tapi embrio manusia hampir mirip dengan babi.

ya, akhirnya kita gak boleh nutup mata kalau kita emang binatang. yang bedain itu kalau kita binatang yang bisa mikir, yang bisa beri makna untuk hidupnya. kalau binatang lain gak lebih, cuman untuk makan, punya anak sama bertahan hidup. itu naluri namanya. kesimpulannya, kita sebagai mahluk unggul gak boleh sombong atau lupa kalau kita sama-sama bertulang belakang seperti anjing, sama-sama melahirkan seperti monyet, dan sama-sama menyusui seperti babi. 

logika sih mestinya kita lebih marah kalau dihina mirip kingdom plantae (pohon): 'dasar lo pohon cemara!' iya, karena hubungan saudara kita dengan pohon sangat jauh dari pada hubungan kita sama anjing dan babi, apalagi sama monyet!

anyway, saudara terdekat kita, simpanse, orang utan dan primata lainnya banyak yang terancam punah. kita usaha lindungi yuk?